Rabu, 18 Juni 2014

Bersembunyi di Balik Senyuman

Perasaan ini terus menerus menyerangku. Hati serasa memberontak. Meronta-ronta ingin dituruti keinginannya. Apadayanya diri ini tak dapat melakukannya. Aku tahu tak seharusnya mencaci maki takdir Yang Kuasa. Tak seharusnya mengingkari garis kehidupan yang telah tergambar dengan jelasnya. Tak seharusnya kecewa dengan apa yang telah diberikan oleh-Nya. Memang seharusnya aku menyadari dan tak mengingkari bahwa aku dilahirkan sebagai sosok wanita.
Wanita memang tak selalu lemah. Dan aku mengakui bahwa aku adalah sosok wanita yang kuat, tegar, dan tak kiranya menyerah dalam menghadapi semuanya. Aku sedikit pun tak memiliki rasa takut dan tak percaya diri akan semua hal yang terjadi dalam hidupku. Aku berani berperang melawan semua musuh dalam hidupku. Baik itu musuh yang nyata berwujud manusia ataupun musuh yang tak nyata berupa problema. Semua kuhadapi tanpa dan tak gentar hati dan diriku ini melawannya.
Aku tak mudah menyerah. Banyak hal yang aku lakukan demi membuat semua musuhku terjatuh dan tersungkur dihadapanku. Tentu saja dengan cara yang benar. Aku akan membuatnya mengakui bahwa aku adalah seseorang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang mereka katakan. Aku akan membungkam mulut mereka dengan semua hal yang kuraih dalam hidupku.
Mempedulikan perasaan memang identik dengan wanita. Sedangkan logika selalu identik dengan pria. Namun, kurasa aku adalah wanita yang mampu berfikir layaknya seorang pria. Aku selalu menggunakan logika dalam bertindak. Aku juga mampu bertingkah laku layaknya wanita sebagaimana kodratku yang sebenarnya. Aku mampu bertingkah laku dan bertutur kata baik dan aku pun juga wanita yang cukup perasa.
Dan cukup diketahui saja. Sebenarnya, selama ini aku mengetahui segalanya. Apa yang kalian katakan, apa yang kalian rasakan, apa yang kalian fikirkan tentang diriku, hidupku, dan semua problema yang menghadangku. Aku mendengarnya cukup jelas ditelingaku. Bahkan, semua kata-kata menyakitkan kalian juga terdengar sangat jelas di telingaku dan pedang yang berupa kata-kata itu dengan mudahnya masuk dan menusuk hati serta perasaanku. Aku mengetahui itu semua.
Aku hanyalah sosok wanita yang munafik. Bagaimana tidak? Senyumku, selalu bermakna sesuatu. Tawaku, hanyalah topeng yang kugunakan untuk menutupi kesedihanku. Aku tak ingin orang lain melihat diriku terluka. Aku tak ingin mereka tahu bahwa sesungguhnya, dibalik semua keangkuhanku, aku adalah sosok wanita yang lemah dan selalu meneteskan air mata saat hatiku terluka.
Ya. Cukup sering aku meneteskan air mata. Menyia-nyiakannya demi membuat hati merasa lega. Tetapi, aku hanya melakukannya saat aku benar-benar sendiri dan tak ada satupun orang lain disekelilingku. Aku tak mau tampak lemah. Aku tak mau tampak tak berdaya.
Aku hanya mau kalian memandangku sebagai sosok wanita yang ceria. Aku hanya mau kalian memandangku sebagai sosok wanita yang hidupnya penuh bahagia. Pandanglah aku selayaknya wanita yang tak punya problema. Pandanglah aku layaknya wanita yang tegar dan selalu tersenyum bahagia dalam menjalani semua jalan hidup yang ada..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang, Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa follow blog ini ya :)