Minggu, 03 November 2013

2 November 2013

Hai. Sudah lama ngga muncul di blog. Sudah berdebu sepertinya dashboard blog ini. Dalam postingan kali ini, saya tidak mau bergalau galau ria dan membuat kata-kata sok puitis seperti biasanya. Kali ini, saya mau menceritakan pengalaman saya dengan si doi. Uhuk. Sebut saja dia, Indra. Iya. Pacar. Huehehehe.
Pengalaman kami terjadi kemarin. Tepat pada tanggal 2 November 2013. Bisa dibilang hari itu, kami diguyur malu. Tapi malu disini, malu dalam hal positif. Begini ceritanya.
Hari itu, kami berdua sudah membuat janji akan pergi ke Batu, tepatnya ke resepsi pernikahan guru kami tercinta, Bu Rofita. Kami berangkat dengan percaya diri berbekal rasa percaya bahwa nanti disana bakal ada beberapa teman saya maupun doi yang juga datang ke resepsi pernikahan tersebut. Ceritanya, kami janjian pake batik yang ada unsur merahnya. Iya. Biar keliat couple gitu. Biar unyu. Hehehe. Singkat cerita, akhirnya kami pun berangkat. Walau hujan menerpa, kami benar-benar nekat berangkat ke Batu dengan diselimuti oleh jas hujan cokelat milik doi.
Setelah sampai di tempat tujuan, tanpa pikir panjang kami menuju pintu masuk gedung tempat resepsi pernikahan dilangsungkan. Saat melewati tempat penerima tamu, kami berdua bertemu guru-guru perempuan kece kami yang cantik syekali. Beliau-beliau menyapa kami dengan senyuman yang waaaaah.... Aslinya kami setengah malu. Karena ternyata teman-teman kami tampaknya tidak ada yang datang. Ya gimana, nekat sudah kami masuk gedung berdua.
Baru beberapa langkah di gedung, si doi menolehkan kepalanya ke arah kanan. Disitu ada guru-guru kece kami yang sedang menikmati hidangan resepsi. Kalau tadi di depan adalah guru perempuan, kini yang ada di depan kami adalah guru-guru laki-laki, Pak Hadi dan Pak Rahmat. Kami pun bersalaman dengan guru-guru kami. Oke. Guru yang mengetahui kalau kita datang berdua cuma sedikit dan beliau-beliau juga masih muda. Masih gahul. Jadi, Rilek. Iya. Rilek.
Selanjutnya, setelah berbincang sejenak dengan Pak Rahmat dan mentowel pipi tembem dari anaknya Pak Rahmat, entah kenapa saya merasa terpanggil untuk menolehkan kepala saya ke arah kiri. Ternyata si doi juga tergoda menolehkan pandangannya ke arah kiri. Alhasil......
MALU SUMPAH MALU. Disitu ada rombongan dari guru-guru sekolah kami dan hampir semua guru ada disitu. Horeeeee!! ._.
Iya. Beliau semuanya bergantian menanyakan pertanyaan yang sama pada kami. "Lho, datanganya cuma berdua ya? Aduh cie.." kata beliau sambil tertawa seakan menggoda kami. Tuhan. Saya malu. Doi juga ._.
Kami pun bersalaman dengan semua guru-guru yang ada di depan kami. Kemudian kami menuju ke tempat kedua pengantin duduk. Tapi disitu, Bu Rofita masih tak ada. Katanya sedang ada di dalam. Akhirnya kami pun menunggu sampai Bu Rofita kembali.
Sesaat kemudian, Bu Rofita pun keluar dan menuju tempat duduk pengantin dengan baju biru yang indah sekali. Bu Rofita benar-benar terlihat super ekstra anggun. Cantiik :3
Kami pun bersalaman dengan Bu Rofita. Dan lagi-lagi kami digoda karena hanya datang berdua. Oke. Malu lagi. Hehe. Kemudian, Bu Rofita mengajak kami foto bersama beliau. Iya. Kami berfoto bersama. Malu lagi ._.
Setelah sukses diguyur malu karena datang kesini hanya berdua, kami pun mulai merasa lapar. Hahaha. Kami pun menuju tempat makanan di hidangkan. Saya makannya ngga terlalu banyak banget kok. Si doi tuh yang berkelana kesana kemari mencicipi semua hidangan. Maklum. Energi dikuras otak buat berfikir betapa malunya kami. Hehehe.
Setelah selesai makan, kami pun pergi dari lokasi. Kami pergi menuju MOG untuk membeli kue tart untuk papa. Iya. Tepat hari itu, papa saya sedang berulang tahun. Ceritanya, saya ingin memberi pesta kejutan buat papa. Bareng doi juga. Cieeee. Setelah ribet-ribet beli kue tart, kami pun menuju rumah saya.
Singkat cerita, kami merayakan ulang tahun papa secara kecil-kecilan. Papa terharu looo. :3
Waktu pun berlalu, doi tetep di rumah saya. Main-main sama adik dan laptop juga. Tak berapa lama kemudian, Mama, Papa, dan adik saya pergi kondangan ke rumah saudara saya. Saya ditinggal dirumah sama doi, nenek, kakek. Okelah tak apa.
Baru beberapa waktu, hp saya berbunyi. ada telefon dari Mama. Intinya, saya disuruh nyusul sama si doi juga. Kebetulan rumah saudara saya cukup dekat dan saudara saya itu adalah teman dari orangtua doi. Jadi, doi juga kenal dengan saudara saya itu.
Tanpa pikir panjang, kami berangkat. Sesampainya disana, baru masuk beberapa langkah saja, tiba-tiba ada suara perempuan yang di kenal sama doi. Intinya, si doi pinter banget. Izin nikahannya di Batu, tau-tau doi kesini. Iya. Itu suara Ibunya doi. Haha. Ternyata, orangtua si doi juga ada di lokasi. Orangtua saya juga tentunya.
Demi apa. Kami serasa diguyur ember berisi malu. Saya dan doi pun tertunduk malu. Kata mama sih, muka kami berdua terlihat merah layaknya kepiting rebus. Ampuuun. Malu sekali memang :3
Kata doi sih ceritanya, secara tidak langsung kami benar-benar mendeklarasikan bahwa kami ada..... uhuk, sesuatu, di depan guru-guru, dan keluarga kami masing-masing. Hehe. Iya juga sih. :3
Yap sekian cerita saya. Maaf long post. Bikin capek bacanya :3 Intinya, 2 November 2013 adalah hari yang amat sangat berkesan bagi kami. Hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang, Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa follow blog ini ya :)