Selasa, 22 Januari 2013

Sebuah Cerita Singkat, Tentang Kita.

Sunyi, sendiri, sepi. Itulah yang kurasakan saat itu. Hendak mengadu, namun pada siapa? Siapa yang akan kupercaya? Tak ada. Mereka semua.. entahlah. Rasanya aku susah memasrahkan semua kepercayaanku pada mereka. Bukan karena apa-apa. Hanya kami, ya, aku dan mereka, belum saling mengenal satu sama lain. Hari demi hari, kulalui sendiri. Benar-benar sendiri. Tak ada yang menemani. Hampa? Sangat. Hidupku tak berwarna, tak berpola. Datar. Hanya begitu saja.
Hingga suatu saat, terlintaslah sebuah wajah nan rupawan di hadapan kedua mataku. Bibirnya perlahan membentuk melekuk melukiskan sebuah senyuman. Manis. Indah. Sungguh rupawan. Tiba-tiba jantungku mulai berdetak kencang, semakin kencang saat sosok rupawan itu mendekat. Tanpa pikir panjang, hatiku, sepenuhnya jatuh. Ya, aku jatuh cinta. Untuk pertama kalinya, selama hidupku.
Beribu hari kulewati hanya dengan memandangmu, mengagumimu, tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata pun saat kau berjalan melewatiku. Bahkan untuk menyapa pun, tak sanggup. Sekejap saja seluruh tubuhku serasa meleleh, terkadang seluruh tubuhku terasa seperti terbang melayang dengan bebasnya di udara saat melihat sebuah senyuman dari sepasang bibir yang melengkung dengan indahnya di wajahmu. Begitulah. Tak mampu ku mengajakmu bercakap, meskipun hanya sepatah dua patah kata saja.
Tibalah saatnya kau pergi meninggalkan tempat ini. Tempat aku melihatmu untuk yang pertama kalinya. Tempat aku menjatuhkan hatiku padamu. Kau pergi mengejar mimpi, menggapai anganmu. Jauh disana. Aku? Kembali sendiri disini. Dengan berbekal mimpi dan harapan, berdoa semoga disana, di tempat barumu kau tak jatuh hati pada sosok wanita yang mungkin kan lebih baik dariku. Hanya itu yang dapat kulakukan. Berdo'a, berharap, bermimpi.
Tiga ratus enam puluh lima hari kemudian, tibalah saat untukku melanjutkan mengejar mimpi, menggapai angan seperti yang kau lakukan. Tanpa sadarku, tempatku meraih mimpi kini, adalah tempat dimana kau mengejar anganmu pula. Tuhan mempertemukan kita, lagi. Disini. Ditempat ini. Hanya saja suasana berbeda dibandingkan dahulu. Dulu, aku yang memandangmu terlebih dahulu dan kemudian jatuh hati. Kini? Entah. Kulihat disitu kau berdiri. Tampak terpaku. Memandang ke arahku. Sejenak aku berfikir, apakah ada yang salah dengan diriku? Pakaian? Normal. Mata? Masih ada dua. Lengkap. Bibir? terkunci. rapat. tentu saja terpaku, karena ada dirimu. Hidung? Setidaknya masih bisa menghirup oksigen, dan mengeluarkan karbondioksida. Semua tampak normal. Namun disitu kau masih memandangku. Jujur saja, aku malu. Tiba-tiba saja, seorang lelaki yang tentu saja kawanmu menggenggam tanganmu, mengajakmu menuju suatu ruangan hingga kau tak terlihat lagi dalam jangkauan kedua mataku. Baiklah. Tak apa. Aku sudah cukup bahagia melihatmu kembali setelah sekian lama kita tak bertemu dan sekian lama aku tak memandang senyuman indahmu itu.
Hari demi hari, waktu demi waktu, segala cobaan, rintangan, kita lalui. Susah senang semuanya kita lewati. Pada akhirnya, kau mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang kuharapkan sejak dahulu, awal kita bertemu. Aku menganggukkan kepalaku, tanda setuju. Terima kasih Tuhan. Kau telah mengabulkan doa sebuah hati yang telah lama bersabar dan menunggu sebuah keajaiban kan datang menyadarkan dirimu akan diriku yang ingin hadir dalam hidupmu dan membahagiakanmu, semampuku, sebisaku♥
and that is you


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang, Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa follow blog ini ya :)