Senin, 20 Februari 2012

Biografi Tokoh Idola Saya: Bpk Didik Hadiprayitno, SST

Assalamu'alaikum wr. wb.
Halo semuanya. Kali ini saya akan menulis tentang salah satu tokoh idola saya, yaitu Bpk. Didik Hadiprayitno, SST. Kebetulan saya sedang mengerjakan tugas PKn dan saya pun ingin menuliuliskan biografi beliau di blog saya. Yap langsung dibaca aja ya.


Didik Hadiprayitno, SST (dengan nama lahir Kwee Tjoen Lian, lalu Kwee Tjoen An) yang lebih dikenal sebagai Didik Nini Thowok lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 13 November 1954 adalah penari, koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi, dan pengajar. Banyak penghargaan telah diberikan kepada Didik Nini Thowok seluruh karya-karyanya dan gaya yang unik dalam menggabungkan klasik, folk, tari modern dan komedi. Beberapa koreografi aslinya sangat terkenal di Indonesia.
Selain melakukan koreografi sendiri asli, ia juga memiliki keahlian yang luar biasa dalam melakukan berbagai tari tradisi seperti Topeng, Sunda, Cirebon, Bali, dan tentu saja Jawa Tengah. Selama karirnya, ia belajar menari kepada lebih dari 23 guru tari, seperti Ni Ketut Sudjani, I Gusti Gde Raka, Rasimoen, Sawitri, Ni Ketut Reneng, Kamini, Bagong Kussudiardjo, BRAy Yodonegoro, Sangeeta, Richard Emmert, Sadamu Omura, Jetty Roels, Gojo Masanosuke, serta beberapa nama maestro lain dari berbagai negara. Tak heran Didik menjadi begitu menguasai seni tari, terutama yang berbasis tradisi.
Masa Kecil Didik Nini Thowok terlahir dengan nama Kwee Tjoen Lian. Karena sakit-sakitan orang tuanya mengubah namanya menjadi Kwee Tjoen An. Ayah Didik, Kwee Yoe Tiang, merupakan seorang peranakan Tionghoa yang "terdampar" di Temanggung sedangkan ibunya, Suminah, adalah wanita Jawa asli, asal Desa Citayem, Tjilatjap. Didik adalah sulung dari lima bersaudara (keempat adiknya perempuan). Setelah G30S/PKI, keturunan Tionghoa diwajibkan mengganti nama Tionghoa mereka menjadi nama pribumi sehingga nama Kwee Tjoen An pun menjadi Didik Hadiprayitno.
Masa kecil Didik cenderung seperti anak perempuan dan menyukai permainan mereka, seperti pasar-pasaran (berjualan), masak-masakan, dan ibu-ibuan. Saat kecil pun Didik diajari oleh neneknya ketrampilan perempuan seperti menjahit, menisik, menyulam, dan merenda. Belajar menari saat masih sekolah, Didik suka menggambar dan menyanyi (suaranya bagus terutama saat menyanyi tembang Jawa). Namun setelah mengenal dunia tari akibat sering menonton pertunjukan wayang orang yang berupa sendratari, Didik pun bertekad untuk mempelajari tari.
Sayangnya perekonomian keluarga yang pas-pasan menyulitkan langkah Didik untuk belajar. Akhirnya Didik meminta teman sekelasnya Sumiasih, yang pandai menari dan nembang, untuk mengajarinya tari-tarian wayang orang. Menari bukan hal yang sulit dilakukan, karena selain tubuhnya yang lentur, Didik juga berbakat.
Guru Didik berikutnya adalah Ibu Sumiyati yang mengajarinya dan ketiga adiknya, tari Jawa klasik gaya Surakarta. Didik membayar guru ini dari hasil menyewakan komik warisan kakeknya. Didik juga belajar tarian Bali klasik dari seorang tukang cukur rambut. Didik berguru pada A. M. Sudiharjo, yang pandai menari Jawa Klasik juga sering menciptakan tari kreasi baru.
Didik juga ikut kursus menari di Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Temanggung. Salah satu gurunya adalah Prapto Prasojo, yang juga mengajar di padepokan tari milik Bagong Kussudiarjo di Yogyakarta. Koreografi tari ciptaan Didik yang pertama dibuat pada pertengahan 1971. Tarian itu diberi judul “Tari Persembahan”, yang merupakan gabungan gerak tari Bali dan Jawa. Didik tampil pertama kali sebagai penari wanita; berkebaya dan bersanggul saat acara kelulusan SMA tahun 1972. Saat itu, didik juga mempersembahakan tari ciptaannya sendiri dengan sangat luwes. Kuliah Setelah lulus SMA, impian Didik untuk melanjutkan kuliah di ASTI Yogyakarta terbentur pada biaya. Didik pun bekerja, tak jauh dari kesukaannya, menari. Didik menjadi pegawai honorer di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung dengan tugas mengajar tari di beberapa sekolah (SD dan SMP), serta memberi les privat menari untuk anak-anak di sekitar Temanggung. Dua tahun setelah lulus SMA, Didik bertekad untuk kuliah di ASTI.
Berbekal uang tabungannya, Didik berangkat ke Yogyakarta dan mendaftar di ASTI. Berkat Tari Manipuri, tarian wanita yang diperagakannya dengan begitu cantik, Didik berhasil memikat tim juri ASTI. Sehingga Didik diterima dan dinyatakan sebagai mahasiswa ASTI angkatan 1974. Pribadinya yang hangat, kocak dan santun tak menyulitkan Didik untuk mendapat teman. Bersama teman-teman barunya, Didik menampilkan fragmen tari berjudul Ande-ande Lumut. Didik berperan sebagai Mbok Rondo Dadapan, janda centil dari Desa Dadapan. Penampilan Didik sangat memukau mahasiswa ASTI yang lain.
Beberapa bulan setelah mulai kuliah, Didik menerima tawaran dari kakak angkatannya, untuk membantu dalam fragmen tari Nini Thowok bersama Sunaryo. Nini Thowok atau Nini Thowong adalah semacam permainan jailangkung yang biasa dimainkan masyarakat Jawa tradisional. Pementasan ini sangat sukses. Kesuksesannya membawa trio tersebut pentas diberbagai acara. Mereka pun mengemas pertunjukan mereka dengan konsep yang lebih matang.
Saat Sunaryo mengundurkan diri, posisinya digantikan Bambang Leksono Setyo Aji, teman sekos Didik. Mereka lantas menyebut kelompok mereka sebagai Bengkel Nini Thowok. Dan di belakang nama mereka melekat nama tambahan Nini Thowok (berarti: "nenek yang menyeramkan"). Setelah itu, karier Didik Nini Thowok sebagai penari terus berlanjut, bahkan Didik sering muncul di televisi. Didik terus mengembangkan kemampuan tarinya dengan berguru ke mana-mana. Didik berguru langsung pada maestro tari Bali, I Gusti Gde Raka, di Gianyar. Ia juga mempelajari tari klasik Sunda dari Endo Suanda serta Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan yang dipelajarinya dari tokoh besar Topeng Cirebon, Ibu Suji.
Saat pergi ke Jepang, Didik mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo), di Spanyol, ia pun belajar tari Flamenco. Karier Setelah menyelesaikan studinya dan berhak menyandang gelar Didik Hadiprayitno, SST (Sarjana Seni Tari), Didik ditawari almamaternya, ASTI Yogyakarta untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain diangkat menjadi dosen di ASTI, ia juga diminta jadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.
Penghargaan Penghargaan yang pernah diraih oleh Didik Nini Thowok adalah sebagai berikut :
·         Soedarpo Award by the Rotary Foundation Rotary International District 3400 (2005)
·         Kala Award by the Governor of Yogyakarta Special Territory (2002)
·         Indonesian Consulate of Kobe, Japan (1998)
·         Sultan Haji Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam (1992)
·         Javanese Cultural Society of Surakarta (1993)
·         Yogyakarta Tourism Department (2000)
·         Indonesian Student Association of Newcastle, Great Britain (1994)
·         Cultural Award, Governor of Yogyakarta (1991)
·         Indonesian Student Association of Hiroshima, Kansai, Japan (1999)
·         Journalist Association of Yogyakarta (1993)
·         First Place Award, Ceremonial Make-up Competition, Yogyakarta (1977)
·         Indonesian Student Association of Belgium (1991)
·         Honors Student, Ministry of Education and Culture, Indonesia (1976)

Kemudian, tarian yang pernah beliau ciptakan diantaranya :
a.       Dewi Sarak Jodag
Menceritakan tentang Dewi Sarak Jodag ( adik dari Raja Klana ). Karena jatuh cinta pada Raden Panji, Ia merubah dirinya menjadi Dewi Chandrakirana, Istri Raden Panji. Tapi Raden Panji mengetahu tipu daya Dewi Sarak Jodag dan menolaknya. Karena merasa malu, ia berubah menjadi sosok yang mengerikan sebagai perwijudan dari rasa malu, marah dan derita. Dalam tarian ini, perubahan karakater dipertihatkan dari penggunaan topeng dan dibumbui sedikit unsur komedi.
b.      Tari Persembahan
Merupakan gabungan gerak tari Bali dan tari Jawa. Inilah tarian pertama yang diciptakan Didik, yang ternyata menjadi awal dari sekian banyak kreasi tari yang diciptakannya di masa depan
c.       Tari Batik
Di sinilah untuk pertama kalinya Didik tampil sebagai penari wanita. Berkebaya dan bersanggul, dengan luwes ia memamerkan gerakan-gerakan tari yang juga merupakan hasil karyanya sendiri itu.
d.      Tari Dwimuka
Tari Dwimuka terinspirasi dari sebuah film dimana salah satu tokohnya menggunakan topeng di belakang kepalanya. Tari-tarian Didik biasanya penuh dengan atraksi komedi, yang mengundang decak kagum dan keceriaan penonton.
e.       Tari Dwimuka Jepindo 1999
f.       Tari Kuda Putih tahun 1987
g.      Tari Topeng Nopeng tahun 1988
h.      Tari Topeng Walang Kekek ditahun 1980

Yap, mungkin sekian dari saya. Perlu diketahui impian saya adalah menjadi seperti Bapak Didik Hadiprayitno, SST. Menjadi pencipta, koreografer yang benar-benar handal. Doakan aja ya. Haha.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang, Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa follow blog ini ya :)