Selasa, 29 November 2011

Cintaku Kandas Karena Sahabatku - Cerpen

            “Daraaaaa !” teriakku sambil menarik tangan Dara, sahabatku. “Eh, kenapa nih anak?” tanya Dara. “Kemarin, aku sms an sama Irfan !” kataku. “Eciyee... yang lagi seneng..” kata Dara sambil mengedipkan matanya padaku.
            Namaku Riska. Aku dan Dara sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SD. Sudah lama memang. Aku merasa dia sudah seperti saudaraku sendiri. Kami sangat dekat. Apapun yang terjadi padaku, aku ceritakan padanya. Dan apapun yang terjadi pada Dara, dia menceritakan ceritanya padaku.
            Selain Dara, aku juga punya sahabat yang bernama Sari. Memang kami baru saling mengenal ketika memasuki bangku SMP. Namun, dia tak kalah baiknya dengan Dara. Aku dan dia juga sudah seperti saudara. Kemana-mana saja selalu bersama. Apapun tentangku, dia mengetahuinya. Dan apapun tentangnya, aku tahu.
            Pagi ini, aku belum melihat Sari. Padahal ada sesuatu yang ingin ku ceritakan padanya. Yap, tentang Irfan. Sudah beberapa minggu ini, aku mulai merasakan ada sesuatu yang membuat aku jadi sayang sama Irfan. Karena kelucuan dan kepandaiannya dalam bermain basket, aku jadi tertarik dengan dia. Hanya saja, sampai detik ini aku belum tahu apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Yah.. semoga saja dia juga merasakan hal yang sama.
            Tidak lama kemudian, Sari datang. Aku pun heboh menceritakan soal Irfan kepada Sari dan Dara. Dan mereka berdua tampak senang sekali melihat aku bahagia seperti ini. “Memang mereka berdua sahabat terbaikku,” kataku dalam hati.
            Setiap hari, Irfan semakin menunjukkan tanda-tanda seakan-akan dia memiliki rasa yang sama padaku. Akhir-akhir ini, dia lebih sering menghubungiku. Mulai dari basa-basi menanyakan tugas, sampai bercanda berdua. Aku merasa sangat bahagia. Semoga saja, ini berjalan selamanya. Semoga saja aku dan Irfan bisa bersatu.
            Riska, ada pr gak?
            InsyaAllah enggak ada.
            Emm. Yaudah. Makasih cantik.. :)
            Sama-sama :)
            Itu bunyi pesan singkatnya untukku. Pesan singkat yang benar-benar membuat aku “Melting”. Pesan singkat yang membuat aku salah tingkah jika membacanya. Dan hal ini ku ceritakan pada Sari dan Dara. Mereka pun ikut tertawa bahagia melihatku yang bercerita sambil salah-salah tingkah dan tiba-tiba diam saat melihat Irfan masuk ke kelas.
            Suatu hari, aku, Sari, dan Dara sedang makan di kantin sekolahku. “Ris, kamu tahu Ifa, kan?” tanya Dara padaku. “Ifa? Mantannya Irfan?” jawabku. “Iya. Aku ada info tentang dia,” kata Dara. “Apa?” tanyaku. “Ifa masih suka sama Irfan. Dia masih ngejar-ngejar Irfan,” kata Dara.
            “Hmm.. Irfan masih suka nggak?” tanyaku sambil sedikit cemas kalau saja selama ini Irfan hanya menjadikanku pelampiasan cintanya. “Nggak tau,” jawab Dara singkat. “Udah ah jangan ngomong mulu. Makan dulu tuh. Ntar aku yang ngabisin lho !” kata Sari.
            Aku pun berfikir. “Darimana Dara mendapat informasi tentang Ifa? Bukankah Dara dan Ifa tidak terlalu dekat?” ujarku dalam hati.
            Esoknya, aku menanyakan hal itu pada Dara. Ternyata, Ifa dan Dara itu teman dekat. Mereka satu kelas dalam suatu bimbingan belajar. Dan mereka berdua sering bercerita tentang orang yang mereka sayangi.
            Suatu hari, tim basket sekolahku mengikuti sebuah pertandingan melawan sekolah lain. Biasanya, aku tak pernah menonton pertandingan-pertandingan seperti itu. “Males ah!” kataku ketika ada teman yang mengajakku pergi menonton. Namun kali ini, aku bersemangat sekali ingin ikut menonton pertandingan itu. Maklum, ada Irfan yang ikut bertanding. Aku ingin memberinya semangat supaya bisa memenangkan pertandingan itu.
Pertandingan pun di mulai. Aku melihat aksi Irfan yang sangat hebat. “Irfan keren!” kataku. Tak lama kemudian, datanglah Ifa. Aku melihat Ifa dan langsung terdiam. Setahuku, Ifa tak pernah menonton pertandingan semacam ini. Dia lebih suka berkumpul dengan temannya di sekolah, atau pulang. Namun kali ini, dia datang ke pertandingan Irfan.
Aku pun mencari tempat menonton pertandingan yang letaknya sangat tersembunyi. Aku tak mau Ifa melihatku di sini, sedang menonton Irfan bertanding. Tapi, sepintar apapun aku mencari tempat untuk bersembunyi, akhirnya Ifa pun mengetahuiku.
Beberapa menit kemudian, pertandingan pun selesai. Dan sekolahku memenangkan pertandingan itu. Aku dan supporter lainnya berteriak histeris dan berjabat tangan dengan para pemain basket dari sekolahku. Termasuk Irfan. Disitu, untuk pertama kalinya dia menjabat tanganku. Aku benar-benar bahagia. Lalu ku lihat ke sekelilingku. Aku mencari Ifa. Tapi ternyata Ifa tak ada. Dia sudah pulang.
“Untung dia udah pulang,” kataku dalam hati.
Esoknya, aku menceritakan semua itu kepada Dara dan Sari. Mereka tampak terkejut saat aku mengatakan Ifa melihatku menonton pertandingan basket Irfan. Dan aku pun bercerita panjang lebar.
“Sumpah deh, kayanya aku harus ngelupain Irfan deh, Dar, Sar. Aku takut Ifa marah ke aku,” kataku.
“Hm.. tersera kamu deh. Tapi kamu cocok lho sama Irfan,” kata Sari.
Aku hanya tersenyum sinis.
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang mendengarkan lagu favoritku, handphone ku berbunyi. Ada pesan singkat dari nomor yang tak di kenal.
            Assalamualaikum. Ini Riska ya? Aku Ifa. Aku cuma mau bilang kamu boleh kok suka sama Irfan. Aku bukan siapa-siapa Irfan. Aku cuma mantan. Aku gak berhak buat marahin dia atau ngelarang dia buat deket sama cewe lain. Aku ikhlas kok dia sama kamu. Gak usah di lupain dia. Jagain dia buat aku ya..
            Jujur aku terkejut. Darimana Ifa tahu kalau aku suka sama Irfan ? Darimana Ifa tahu bahwa aku mau melupakan Irfan ? Sedangkan aku hanya menceritakan itu semua kepada sahabat-sahabatku, Sari dan Dara. Sepertinya tidak mungkin mereka membocorkan semua rahasiaku pada Ifa.
            Keeseokan harinya, aku bertanya kepada Sari dan Dara. “Ifa tau tentang aku sama Irfan. Siapa yang ngomong?” tanyaku. “Hm.. Maaf  Ris, aku yang bilang itu semua ke Ifa. Aku kasihan lihat Ifa. Maaf..” kata Dara kemudian pergi.
            Aku tak percaya. Dara yang selama ini sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, ternyata menghianatiku. Ternyata Dara yang menceritakan semua rahasiaku pada Ifa. Ternyata selama ini, semua ceritaku tentang Irfan, dia ceritakan pada Ifa.
            Semenjak peristiwa itu, aku dan Dara sedikit jauh. Begitu juga aku dan Irfan. Irfan menjauh. Dia tak pernah menghubungiku lagi. Mungkin dia masih mempunyai perasaan pada Ifa. Jadi, dia tak mau Ifa cemburu karena kedekatanku dengannya.
            Dan kini, aku sendiri. Hanya Sari yang bisa memberiku semangat untuk menjalani hidupku. Dara, orany yang ku percaya sudah menghianatiku. Dan akhirnya, cintaku kandas karena ulah sahabatku sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang, Terima kasih telah berkunjung. Jangan lupa follow blog ini ya :)